Selasa, 19 April 2011

Teologi menurut pandangan positivis dan post positivis


TEOLOGI MENURUT PANDANGAN POSITIVIS DAN POST POSITIVIS

Penelitian dilakukan berdasarkan salah satu dari paradigma positivis atau paradigma post-positivis.  Paradigma positivis mempunyai paradigma bahwa realitas dan apa yang benar adalah tunggal, konkret, dan dapat dibagi-bagi; hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui terlepas satu sama lain; generalisasi yang bebas dari waktu dan konteks dapat dilakukan; hubungan sebab-akibat dapat dipastikan karena ada itu penyebab yang nyata; nilai tidak berperan karena penelitian itu bebas nilai. Positivisme mempunyai dua sisi yaitu bersifat logis dan empiris sehingga riset adalah mengetahui dan atau berpikir ilmiah.
Paradigma post-positivis mempunyai paradigma bahwa realitas adalah lebih dari satu (jamak), merupakan bentukan, dan holistik; hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui tidak terpisahkan dan interaktif; generalisasi yang bebas waktu dan konteks tidak dimungkinkan sehingga hipotesis yang dibuat terikat waktu dan konteks; tidak ada penyebab yang sebenarnya karena semua entitas saling membentuk; penelitian itu terikat pada nilai. 
Permasalahan bagi penelitian teologi adalah apakah penelitian teologi itu menggunakan pendekatan positivis atau post-positivis. Pada batas-batas tertentu penelitian teologi mempunyai ciri-ciri paradigma positivis, namun hanya mengandalkan paradigma positivis belaka tidaklah memadai. Demikian juga hanya mengandalkan paradigma post-positivis tidaklah memadai. Harus diingat bahwa penelitian teologi mempunyai pra-anggapan (misal. ada kuasa adi kodrati) yang mempengaruhi pra-anggapan tentang nilai, pengetahuan, logika, sejarah dan bahasa. Dapat dikatakan bahwa penelitian teologi mencakup berbagai metode penelitian ilmu-ilmu lainnya sehingga diperlukan pembelajaran metode-metode teologi dan metode-metode ilmu lainnya yang relevan dengan bidang teologi. Jadi dalam bidang keagamaan, penelitian dilakukan untuk kepentingan pelayanan, yaitu untuk melayani Allah dan manusia.
Sesuai dengan paradigma penelitian (positivis atau post-positivis), ada dua ancangan penelitian yang dapat dipilih yaitu ancangan positivis (kuantitatif) dan ancangan naturalis (kualitatif). Ancangan positivis (kuantitatif) berpendapat bahwa satu-satunya metode ilmiah sejati untuk memperoleh pengetahuan adalah metode hipotesis-deduktif, yitu menggunakan metode ilmiah dengan prosedur langkah demi langkah dalam memecahkan masalah atas dasar pengamatan empiris. Ancangan naturalis (kualitatif) berdasar pada metode kualitatif dan deskriptif untuk mengumpulkan data, menghasilkan hipotesis, dan kesimpulan umum sebagai bagian dari prosesnya. Untuk penelitian teologi, Rothery menyarankan penggabungan kedua ancangan itu dengan memanfaatkan pandangan naturalis tanpa membuang pandangan positivis. Pandangan ini mengakui adanya dua realitas, yaitu realitas objektif dan realitas subjektif. Dalam pengertian luas, rancangan penelitian menunjuk pada semua prosedur yang dipilih untuk menyelidiki sekumpulan pertanyaan atau hipotesis, hubungan kausal (jika ada) di antara variabel atau gejala yang diselidiki.

PERSPEKTIF POSITIVISME
Paradigma positivisme, mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses linier atau proses sebab akibat, yang mencerminkan pengirim pesan atau komunikator untuk mengubah perilaku penerima pesan yang pasif. Ini berarti komunikasi terjasi secara sengaja dilakukan oleh seseorang untuk menyampaikan rangsangan dalam membangkitkan respon orang lain.

SEJARAH POSITIVISME
Positivisme dicetuskan oleh dua pemikir perancis, Henry Sain Simon (1760-1825) dan muridnya Auguste Comte (1798-1857).Pemikiran Comte merupakan reaksi terhadap situasi Perancis. Revolusi Perancis dan semangat pencerahan dalam banyak hal menghasilkan perubahan sosial. Gagasan dasar Comte dapat dikenali dari pemikirannya mengenai 3 tahap perkembangan sejarah manusia yaitu :
• Teologis, Pada tahap ini manusia memahami gejala-gejala alam sebagai hasil campur tangan langsung kekuatan ilahi. Tahap ini dimulai dari animisme yang menganggap benda-benda berjiwa dan diperlakukan suci.

• Metafisis, Pada tahap ini gejala alam diyakini berjalan berdasar pada prinsip-prinsip metafisika. Prinsip-prinsipini dihasilkan melalui pemikiran spekulatif yaitu berdasarkan percobaan-percobaan.

• Positivis, Pada tahap ini yaitu cara memahami kehidupan dan semesta dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.Alam dan kehidupan bukan lagi dipahami sebagai hasil campur tangan yang ilahiah atau berdasar pada prinsip-prinsip spekulasi, melainkan sebagai sesuatu yang pasti, nyata dan berguna.


GAGASAN POSITIVISME
Positivisme adalah aliran filsafat ilmu yang didasarkan atas keyakinan atau asumsi-asumsi dasar:
1. Ontologi (realisme):semesta digerakkan oleh hukum alam secara mekanis dalam hokum
    jika……maka…….
2. Epistemologi (dualisme): teori ini menggambarkan semesta apa adanya tanpa keterlibatan
    nilai-nilai subjective peneliti.
3. Metodologi (experimental): hipostesis dirumuskan lebih awal dalam bentuk proposisi yang
    lalu dihadapkan pada verifikasi di bawah situasi yang benar-benar terkontrol

CIRI-CIRI POSITIVISME
  • Bebas Nilai, berarti ketika si pengamat mengamati sesuatu maka nilai-nilai yang dimiliki si pengamat tidak dilibatkan sehingga menghasilkan kesimpulan apa adanya
  • Fenomenalisme, berarti apa yang kita amati merupakan fenomena belaka,sementara sesuatu yang berdiri dibelakang fenomena (sebagaimana diyakini metafisika) tidak dilibatkan
  • Nominalisme, berarti kebenaran berdasarkan lama atau ukuran, dalam hal ini kebenaran kenyataan terletak pada penamaan bukan kenyataan itu sendiri
  • Reduksionisme, berarti konsekuensi dari cara penelitian yang menyederhanakan atau mereduksi kenyataan menjadi fakta-fakta yang dapat dipersepsi
  • Naturalisme, berarti semua gejala berjalan secara alamiah tanpa campur tangan hal-hal metafisis
  • Mekanisme, berarti semua gejala dapat dijelaskan secara mekanis-determinis layaknya sebuah mesin.



POSITIVISME LOGIS
Positivisme logis adalah aliran positivisme yang lebih memfokuskan lebih pada logika dan bahasa ilmiah. Salah satu prinsip yang diyakini kaum positivisme logis adalah prinsip isomorfi, yaitu adanya hubungan mutlak antara bahasa dan dunia nyata.

PRINSIP POSITIVISME LOGIS
  • Menolak perbedaan ilmu alam dan sosial.
  • Menganggap pernyataan yang tidak dapat diverifikasikan secara empiris sebagai non sense.
  • Berusaha menyatukan semua ilmu pengetahuan dalam suatu bahasa ilmiah yang universal.
  • Memandang tugas filsafat sebagai analisis atas kata-kata atau pernyataan

POST –POSITIVISME
Pada tahun 1970/1980an muncullah gugatan-gugatan mengenai kebenaran positivisme,pemikiranya dinamai post-positivisme.posi-positivisme merupakan pemikiran yang menggugat asumsi kebenaran-kebenaran positivisme.pemikiran ini muncul dengan sejumlah tokoh seperti Karl R.Popper,Thomas Kuhn,para filsul Frankfrut school,feyeraben,dan Richard rotry,pemikiran tokoh tokoh ini banyak dipengaruhi penemuan neils bohr,Werner Heisenberg positivism tidak berlaku lagi(setidaknya pada gejala-gejala subatomik).

Berikut ini di kemukakan beberapa asumsi dasar post-positivisme,
1)      Fakta tidak bebas melainkan bermuatan teori.
2)       Falibilitas teori.
3)      Fakta tidak bebas melainkan penuh dengan nilai.
4)      Interaksi antara subjek dan objek penelitian
Salah satu tokoh yang dapat di kategorikan sebagai pemikiran post-positivisme adalah popper.ia disebut post-positivisme karena pemikiranya pada satu sisi mencoba melepaskan diri dari kecenderungan positivisme.popper misalnya mengkritik objektivisme yang dianut comte,namun pada pemikirannya yang lain popper masih mengikuti prinsip-prinsip positivism

B. POST-POSITIVISME DALAM PENLITIAN SOSIAL DAM KOMUNIKASI
Bila positivisme dalam bentuk dan logika klasiknya ditolak oleh post-positivisme,lalu fondasi filosofi apakah yang akan digunakan post-positivisme sebagai kerangka kerja penenitian sosialnya? beragam jawaban yang berbeda telah diajukan untuk menanggani persoalan ini.
Beberapa penelitian social berargumen bahwa kekurangan kekurangan dari pemikiran positivisme pada dasarnya membutuhkan dasar filsafat ilmu yang berbeda,sa
lah satunya adalah menolak dan mengganti prinsip-prinsip positivism(seperti ontology realisme,epistemology objektif dan aksiologi bebas nilai ) dengan bentuk pemikiran yang menghargai prinsip nominalisme,subyektif dan nilai nilai yang hadir dengan sendirinya (omnipresent) namun, beberapa sarjana dalam hal ini menganggap bahwa positivisme sebenarnya tidak perlu ditolak secara total.karena itu kalangan ini lebih meletakkan penolakannya pada gagasan tentang keyakinan positivisme mengenai kebenaran absoulut,tentang landasan mutlak sebuah observasi,dan asumsi tentang landasan mutlak sebuah observasi,dan asumsi tentang akumulasi pengetahuan yang tak berubah.

0 komentar:

Posting Komentar