Senin, 16 Mei 2011

SEMINAR

METODE SURVEI

1Metode Survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel, sosiologis maupun psikologis (2riset yang digunakan untuk fakta-fakta tentang gejala-gejala atas permasalahan yang timbul). Kajiannya tidak perlu mendalam sampai pada tahap menyelidiki kenapa gejala-gejala tersebut ada serta menganalisis hubungan-hubungan atas gejala-gejala. Fakta-fakta yang ada lebih kepada pemecahan masalah daripada digunakan untuk pengujian hipotesis. Survei dapat membantu, misalnya membandingkan kondisi yang ada dengan kriteria yang ditentukan.  3Metode survei digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang alamiah (bukan buatan), tetapi peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan data, survei dapat dilakukan dengan sensus, sampling dengan mengedarkan kuesioner, test, wawancara terstruktur dan sebagainya (perlakuan tidak seperti dalam eksperiman).

SEJARAH METODE SURVEI
4Charles Booth adalah bapak dari survei-survei yang bernada ilmiah. Booth adalah seorang yang kaya raya, pemilik kapal laut yang berasal dari Liverpool (Inggris) yang tergerak oleh kesengsaraan kelas buruh Inggris pada abad ke-19. Booth banyak melakukan survei mengenai kemiskinan di Inggris dan dari survei-survei tersebut ia mampu menerbitkan satu buku yang menggemparkan masyarakat Inggris dan akibat politik adalah luar biasa. Sejak tahun 1941 di tempat kelahiran Booth berdiri “The Goverment Social Survey” yang sekarang menjadi bagian dari “Office off Population Censuses and Surveys” (Kantor Sensus dan Survei Penduduk). Sejak saat itu diadakan banyak perubahan berupa perbaikan dalam tehnik survei dan berkembang pesat (diminati dan dipakai oleh banyak orang dalam penelitian, tidak hanya terbatas pada kemiskinan).


1 Metode Penelitian Pendidikan (pendapat Klinger), Prof. Dr. Sugiyono, Alfabeta Bandung, 2010.
2Metode Penelitian Pendidikan, Prof. Dr. Sugiyono, Alfabeta Bandung, 2010.
3Metode Riset, Husein Umar, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2003.
4Metode dan Tehnik Penelitian Masyarakat, J. Vredenbergt,  PT. Gramedia Jakarta, 1980

5Berdasarkan jenis penelitian dikemukakan bahwa metode survei termasuk dalam metode kuantitatif. Metode kuantitatif sering disebut metode tradisional, positivistik, scientific dan metode discovery. Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini dikatakan ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaedah-kaedah ilmiah yaitu konkret/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode ini juga disebut metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik (begitu juga dengan hasil akhirnya berupa data angka). 6Dalam metode survei juga dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa dan hasilnya dapat digunakan dalam pembuatan rencana dan pengambilan keputusan dimasa mendatang.
7Filsafat positivisme yang dimaksud memandang:
  • realitas/gejala/fenomena itu dapat diklasifikasikan, relatif tetap, konkrit, teramati, dan hubungan gejala bersifat sebab akibat.
  • Proses penelitian bersifat deduktif.
  • Hipotesis diuji melalui pengumpulan data dilapangan.
  • Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian.
  • Data harus dianalisis menggunakan statistik.
  • Kesimpulan dapat digeneralisasikan pada populasi dimana sampel diambil.

Maksud survey
            8Survei dapat digunakan untuk penggambaran, penjelasan, penilaian, prakiraan, penelitian dalam mengatasi hambatan operasional suatu program, dan pengembangan indikator segi-segi keadaan tertentu dalam masyarakat (singarimbun, 1989:4-6).

5Metode Eksperimen juga termasuk dalam penelitian kuantitatif.
6 Metode Penelitian, Moh. Nazir, Ghalia Indonesia, Jakarta 1988.
7Metode Penelitian Pendidikan, Prof. Dr. Sugiyono, Alfabeta Bandung, 2010.
8 Pengantar Riset Kuantitatif,, Andreas B. Subagyo, Kalam Hidup, hlm. 87-95.


Langkah-langkah riset survey
9Menurut Borg dan Gall, langkah-langkah riset survey adalah sebagai berikut.
  1. Menetapkan tujuan. Peneliti harus menetapkan masalah dan mendaftarkan tujuan khusus yang akan dicapai atau hipotesis yang akan diuji dengan kuesioner.
  2. Memilih sampel. Peneliti harus menetapkan target populasi yang akan diambil sebagai sampel.
  3. Menulis unsur-unsur kuesioner
  4. Menyusun kuesioner.
  5. Menguji coba kuesioner
  6. Mempersiapkan surat pengantar mengirim kuesioner, menganalisis hasil dan melaporkan penelitian.
  7. Mengirim kuesioner dan menindak lanjutinya.
  8. Menganalisis hasil
  9. Melaporkan penelitian.


TIPE-TIPE SURVEI
10Dibawah ini merupan tipe survei yang umumnya dipakai orang dalam penelitian:
  • Wawancara Langsung
  • Wawancara tidak langsung
  • Mencari informasi data dari koresponden (surat menyurat)
  • Mencari data dengan mengirim kuesioner (daftar pertanyaan)








9Metode Riset, Husein Umar, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2003.
10Metode dan Tehnik Penelitian Masyarakat, J. Vredenbergt,  PT. Gramedia Jakarta, 1980
Keuntungan dari Metode Survei
  1. Dibandingkan dengan metode lain (observasi eksperimen, langsung) hasil metode survei yang lebih luas informasi. Metode survei efektif untuk menghasilkan informasi mengenai karakteristik sosial-ekonomi, sikap, pendapat, motif dll dan untuk mengumpulkan informasi.
  2. Mempertanyakan biasanya lebih cepat dan lebih murah yang Observasi.
  3. Pertanyaan sederhana untuk mengelolanya.
  4. Data dapat diandalkan.
  5. Variabilitas hasil berkurangan.
  6. Hal ini relatif sederhana untuk menganalisis, dan saling berhubungan mengutip data yang diperoleh dengan metode survei.

Kekurangan Metode Survei
1.      Keengganan responden untuk memberikan informasi, disini memerlukan keahlian peneliti pada bagian pewawancara. Pewawancara dapat menjamin bahwa informasi akan dirahasiakan atau menerapkan teknik menawarkan beberapa hadiah.
2.      Ketidakmampuan responden untuk memberikan informasi-ini mungkin karena:
a.       Kurangnya pengetahuan
b.      Selang memori
c.       Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi motif mereka dan memberikan "alasan mengapa?" Untuk mereka tindakan
3.      Kebiasaan manusia yang ada pada responden, misalnya: "Ego".
4.      Tingkat kesulitan ada, bukan tidak mungkin jika untuk menyatakan sebuah pertanyaan yang diberikan sedemikian rupa sehingga akan berarti persis hal yang sama kepada responden masing-masing. Demikian pula dua kata-kata yang berbeda dari pertanyaan yang sama sering akan menghasilkan hasil yang cukup berbeda.





DAFTAR PUSTAKA


  1. Nazir, Moh, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1988.

  1. Sugiyono, Metodologi Penelitian Pedidikan, Alfabeta, Bandung, 2010.

  1. Subagyo, Pengantar Riset Kuantitatif, Kalam Hidup, Bandung, 2004

  1. Umar Husein, Metode Riset, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003.

  1. Vredenbergt J, Metode dan Tehnik Penelitian Masyarakat, PT. Gramedia, Jakarta, 1980.


Senin, 09 Mei 2011

NIKITA WILLY

Download disini yak lagu nikita willy, bagus loh..... Ada disini ni..

Anti Virus Smadav

Bagi teman2 yang mau anti virus smadav dapat download disini loh.....

Selasa, 26 April 2011

PENTINGNYA PENDIDIKAN KOMPUTER

Manfaat komputer dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak dan membantu, mempermudah, mempercepat pekerjaan-pekerjaan manusia  yang mungkin sulit bila tidak menggunakan komputer diantaranya adalah:

1.Bidang Pendidikan
Kita tahu bahwa untuk memanfaatkan TIK dalam hal pembelajaran tidak semudah dibayangkan.Perlu beberapa syarat yang harus dipenuhi demi terwujudnya pemanfaatan TIK dalam pembelajaran,diantaranya :
-Adanya akses teknologi internet untuk guru maupun siswa,baik di dalam kelas,sekolah,maupun lembaga pendidikan guru,
-Adanya materi yang bermutu bagi guru dan siswa,
-Guru harus harus produktif terhadap perkembangan TIK.

2.Bidang Kesehatan
Salah satu Dari manfaat komputer dalam bidang kesehatan adalah Mempermudah dokter dan perawat dalam memonitor kesehatan pasien, monitor detak jantung pasien lewat monitor komputer, aliran darah, dll. Itu adalah salah satu manfaat komputer dalam bidang kesehatan.

3.Bidang Transportasi
Dengan adanya komputer semua jadwal dan jalur penerbangan yang transit dibandara bisa di program dan dijadwalkan dengan komputer.Untuk menerbangkan sendiri pesawat dilengkapi dengan peralatan komputer.

4.Bidang Jasa Pengiriman Barang
Dengan adanya komputer dan internet orang tidak lagi menunggu berhari-hari menerima surat, cukup lewat email saja lebih cepat dalam sekejap.

5.Bidang industri Otomotif
Mobil-mobil di buat dari kerangka body, mesin, peralatan elektronik di pabrik denga bantuan robot yang dikendalikan oleh komputer. Dengan bantuan komputer pabrik-pabrik otomotif bisa memproduksi mobil dalam jumlah ratusan perbulan.

6.Bidang Jasa Konstruksi
Dengan komputer para insinyur dan arsitek mendesain gambar konstruksi dengan permodelan dan perhitungan yang akurat dan cepat yang dioperasikan dengan bantuan komputer.

7.Bidang Industri Perfilman
Semua efek-efek di dunia akting, animasi, dan penyotingan adegan film semua di rekam dengan perangkat elektronik yang dihubungkan dengan komputer. Animasinya juga di kembangkan mempergunakan animasi yang dibuat dengan aplikasi komputer.

8.Bidang Industri Rekaman
Bahwa untuk menghasilkan suara yang bagus perlu pengaturan perekam dan modifikasi suara dengan media komputer.

9.bidang Pertahanan dan Keamanan
Negara maju seperti Amerika telah dilengkapi dengan peralatan satelit yang dikendalikan dari Bumi. Amerika menggunakan Jaringan Inteligen yang dilengkapi dengan Teknologi komputer dan Informasi modern

Selasa, 19 April 2011

Tokoh Oikumene

Beberapa Tokoh Gerakan Oikumene Dunia

Oikumene di Dunia
1Nathan Soderblom mempunyai gagasan untuk untuk mendirikan suatu dewan gereja-gereja dimulai sejak akhir Perang Dunia Pertama. Semangat untuk mendirikan dewan gereja-gereja sejajar dengan semangat untuk mendirikan Liga Bangsa-bangsa (1919/1920). Dirasa perlu untuk mendirikan suatu persekutuan gereja-gereja sebagai “jiwa” untuk kerjasama antara bangsa-bangsa.
William Temple dari gerakan Faith and Order, yang mengusulkan pada tahun 1935 untuk membentuk suatu dewan oikumenis internasional gereja-gereja, dan Joseph Oldham pada tahun 1936 mengusulkan dalam rapat untuk memanfaatkan  keadaan juga membicarakan masa depan gerakan oikumenis, yang disepakati membentuk panitia dari wakil gereja-gereja yang berjumlah 33 orang. Pada tanggal 8-10 Juli 1937 di London, disepakati mendirikan World Council of Churches (WCC) yang mewakili gereja-gereja dan memperhatikan dalam banyak bidang.

Erasmus, Pendidik Okiumenis
2Erasmus menjembatani dunia klasik Yunani-Romawi dan dunia Kristen. Seorang pendidik yang kuliahnya berupa karya-karya berseru kepada pemimpin dan umum agar memilih jalan salehdan rasional sambil menjauhkan diri dari setiap macam pikiran dan tindakan yang berlebihan. Dia berbicara kebajikan seharusnya diamalkan warga Kristen, meniru kelakuan Yesuskhususnya kebajikan-Nya, rendah hati, lemah lembut, murah hati, kasih, damai, kerelaan mengampuni serta kebebasan berkorban demi keselamatan sesama-Nya. Ia bersedia memperkaya pengalaman Kristianinya dengan pikiran para pengarang kuno. Erasmus adalah seorang yang suka damai, dia cenderung tidak mau memihak. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Erasmus berpendapat bahwa kita harus memihak karena tanah netral sudah tidak ada. Artinya apabila kita tidak memihak, barangkali hasilnya akan lebih buruk lagi. Dalam peranannya sebagai pendidik oikumenis, Erasmus mendidik melalui usahanya memperoleh teks Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang paling asli dan menjelaskan maknanya kepada jemaat.  Erasmus tidak hanya peduli dalam pelajaran saja tapi ia juga peduli terhadap kaum perempuan dalam usaha hak mereka, pernikahan, kaum Kristen dan upacara gereja yang terkadang dianggap mutlak oleh beberapa pihak.

3John Releigh Mott adalah seorang tokoh besar dalam kegiatan penginjilan di kalangan mahasiswa di berbagai universitas di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20. Ia juga dikenal sebagai seorang tokoh pergerakan oikumene di dunia yang tiada tandingnya. Mott memulai kegiatan pekabaran Injil.Sebenarnya Mott ke Cornell agar ia dapat bekerja pada pekerjaan duniawi atau meneruskan usaha ayahnya. Di Cornell ia segera terpilih menjadi wakil ketua Young Men Christian Association (YMCA) Cabang Cornell. Dia giat memberitakan Injil di kalangan mahasiswa dan memimpin kebaktian di penjara-penjara.Pada tahun 1888 ia menyelesaikan studinya di Cornell.
Pada waktu dibukanya cabang YMCA, Mott sudah melibatkan diri dalam organisasi oikumenisini. Kemudian ia pindahke Cornell guna belajar ilmu hukum agar kelak dapat bekerja di lapangan politik. Ia memulai studinya di Cornell tahun 1885. Di Cornell, Mott bergumul tentang cita-citanya dengan panggilan Allah. Pada akhirnya ia tunduk kepada panggilan Allah. Lalu dia bersahabat dengan D.L. Moody.
Pada musim panas YMCA mengadakan konferensi mahasiswa internasional dimana D.L. Moody menjadi ketua konferensinya. Mott menghadiri konferensi ini sebagai wakil dari Cornell.Dalam konferensi ini Mott memutuskan untuk menjadi seorangp enginjil bersama dengan 100 mahasiswa lainnya. Inilah permulaan lahirnya Student Volunteer Movement for Foreign Missions (Gerakan Mahasiswa Sukarela untuk Pekabaran Injil ke Luar Negeri).
Tahun 1886 Mott menjadiketua Student Christian Movement di Cornell. Ia bekerja keras untuk menjalankan kegiatan-kegiatan gerakan ini di Cornell. Dari sinilah Mott belajar untuk mengumpulkan mahasiswa dari berbagai denominasi. Sejak semula ia telah berniat untuk mengusahakan kerjasama antara semua gereja. Ia berkata: "Kita harus awas! Jangan kita menyangka bahwa gereja kita sendiri adalah satu- satunya gereja. Kita harus selalu menghormati semua cabang dari gereja yang Kudus danam."
Setelah tamat dari Cornell, Mott segera menjadi sekretaris YMCA USA dan Kanada.Ia sekarang mengunjungi seluruh universitas dan perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada. Ia juga menjadi ketua dari Student Volunteer Movement for Foreign Missions. Pekerjaannya makin hari makin berat.
Tahun 1891 Mott ke Amsterdam untuk menghadiri konferensi YMCA se- Dunia.Sekarang ia terdorong untuk membentuk suatu federasi dari seluruh gerakan mahasiswa Kristen se dunia. Ia berkali-kali berkunjung ke Eropa sambil mengutarakan rencana tersebut. Rencanan yaitu akhirnya berhasil, yaitu dengan terbentuknya Federasi Mahasiswa Kristen se Dunia.Ia sendiri terpilih sebagai sekretarisnya. Sebagai sekretaris umum, maka ia mengunjungi banyak negara di dunia.
Mott juga menjadi Ketua Komisi Persiapan untuk Konferensi Pekabaran Injil se Dunia di Edinburgh tahun 1910. Mott adalah pemikir utama dalam konferensi itu serta banyak memimpin persidangan. Setelah itu konferensi bubar, maka dibentuklah Komisi Penerus (Continuation Committee) yang diketuai oleh Mott hingga tahun 1920. Tokoh Mott tidak dapat dilepaskan dari Dewan Pekabaran Injil International (International Missionary Council) yang dibentuk pada tahun 1920. Mott menjadi ketua Dewan ini hingga tahun 1942. Dalam kedudukannya sebagai Ketua Dewan Pekabaran Injil ini, ia mendorong agar di tiap Negara dibentuk Dewan Pekabaran Injil Nasional.
Selama Perang Dunia I (1914-1918) Mott bersama anggota YMCA melayani pemuda-pemuda yang masuk tentara serta melayani para tawanan perang. Karena pekerjaan pelayanannya selama Perang Dunia I, maka pemerintah Amerika Serikat menghadiahkan kepadanya medali kehormatan. Pada tahun 1948 Mott adalah salah seorang pemenang Hadiah Nobel untuk perdamaian.
Pada waktu dibentuknya Dewan Gereja-gereja se Dunia, di Amsterdam 1948, Mott diangkat sebagai Ketua Kehormatan. Hal ini adalah patut dilakukan mengingatakan jasa dan peranannya dalam pergerakan oikumene dan pekabaran Injil di dunia. Jabatan ini dipegangnya hingga ia meninggal dunia pada 31 Januari 1955.
Dalam sejarah pergerakan oikumene di Indonesia nama Mott perlu dicatat pula. John Mott mengunjungi Indonesia pada tahun 1926. Di sini ia memberikan rangsangan yang sangat berarti bagi kegiatan Gerakan Mahasiswa Kristen di Hindia Belanda. Organisasi-organisasi seperti YMCA, kemudian GMKI dan DGI dengan Komisi Pekabaran Injilnya berakar dari pekerjaan John R. Mott.






1.       Menuju KeEsaan Gereja, Dr. Christian De Jonge (2009: hlm. 34-35), BPK GM.
2.       Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, Robert R. Boehlke, Ph. D (2006: hlm. 278-291), BPK GM.

3.       RiwayatHidupSingkatTokoh-tokohdalamSejarahGereja, Drs. F. D. Wellem, M.Th (1999: hlm. 187-189), BPK GM.


Oikumene di Asia
4Menurut Pilon,  ada empat faktor yang menentukan perkembangan oikumene di Asia :
1.      Pengaruh Nasionalisme di Asia yang mulai berkembang di mana-mana sesudah Jepang mengalahkan Rusia pada tahun 1905. Timbul perasaan bahwa orang-orang Asia tidak perlu diatur oleh orang-orang Barat karenan mereka sudah mampu mengurus perkaraa yang ada, orang Asia mempunyai pendapat bahwa gereja-gereja Asia harus menjadi urusan orang-orang Asia sendiri.
2.      Pengaruh pekabaran Injil. Usaha-usaha untuk kerjasama yang memuncak pada konperensi Edinburgh (1910) sangat berpengaruh di Asia. Kerjasama gerejani di Asia di pelopori oleh kerjasama di bidang pekabaran Injil.
3.      Pengaruh agama-agama lain. Agama Kristen masih sangat berkiblat kedunia Barat. Timbul kesadaran bahwa orang-orang Kristen Asia harus menghadapi bersama-sama agama-agama yang bukan Kristen.
4.      Pengaruh Alkitab, khususnya Yoh 17 : 21 “supaya mereka semua menjadi satu”. Yang menentukan di sini adalah cara orang-orang Kristen memahami Alkitab dan ajakan-ajakan didalamnya untuk bersatu.

Selain itu ada tiga faktor lain yang mempengaruhi :
1.      Pengalaman perang dunia kedua, khususnya di daerah-daerah yang diduduki oleh Jepang. Di sana bantuan materiel  dan personil dari Barat tiba-tiba berhenti dan gereja-gereja terpaksa mulai mengatur dirinya sendiri.
2.      Proses dekolonisasi yang menyusul perang dunia kedua.Negara-negara Asia, yang dahulu hidup secarabterpisah dalam hubungan dengan masing-masing kuasa penjajah mereka, mulai melihat keperluan kerjasama regional. Hal yang serupa terjadi juga pada gereja-gereja di Asia.
3.      Kesadaran bahwa gerakan oikumenis yang bermuara pada Dewan-dewan Gereja se-Dunia masih sangat ditentukan oleh gereja-gereja Barat. Walaupun gereja-gereja Asia terlibat dalam DGD dirasa bahwa gereja-gereja Barat sibuk dengan persoalan-persoalan yang berbeda dari masalah yang dihadapi di Asia. Karena itu dirasa bahwa orang-orang Kristen Asia sendiri harus menyelesaikan persoalan yang muncul di konteks Asia tanpa campur tangan dari gereja-gereja lain, khususnya gereja Barat.



Oikumene di Indonesia
5Dalam Buku Duapuluh Lima tahun DGI Dr. TB. Simatupang menunjuk kepada lima jenis pengaruh yang nyata dalam sejarah pembentuka DGI, yaitu :
1.      Alkitab (Yoh 17 : 21) dan Pengakuan Iman
2.      Nasionalisme di Indonesia menjelang dan sesudah Perang Dunia Kedua
3.      Pengalaman Pemuda Kristen dalam Perhimpunan Mahasiswa-mahasiswa Kristen dan pada Sekolah Tinggi Theologia di Jakarta
4.      Pengalaman pada masa Jepang
5.      Pengaruh gerakan oikumenis dari luar

Dorongan yang lebih langsung untuk gerakan oikomenes di Indonesia yang bermuara pada pembentukan DGI thn 1950 datang dari kofrensi IMC ygke 3 diTambaran pada thn 1938. Disini ada 9 tokoh gereja, diantaranya Sultan Gunung Mulia yang sebelumnya beliau hadir dalam kofrensi IMC di yerusalem. Disini dibicarakan bagaimana membentuk Dewan Gereja Dunia, untuk itulah mendorong di Indonesia juga membentuk dewan gereja–gereja diIndonesia.
Tanggal 12 januari 1939, diadakan pertemuan di Batavia atas inisiatif Gereja Protestan di Indonesia (GPI),GKJW,GKI .  Dari sejarah oikomene di Indonesia menjelang Perang dunia ke-2 kiranya jelas bahwa peranan PI khususnya melalui zending consulat cukup penting dalam menempuh jalan yg berakhir pada pembentukan DGI.









4.       Menuju KeEsaan Gereja, Dr. Christian De Jonge (2009: hlm. 71-75), BPK GM.
5.       Menuju KeEsaan Gereja, Dr. Christian De Jonge (2009: hlm. 83-87), BPK GM.

Efek Mozart

Efek Mozart adalah suatu fenomena yang mulai muncul di Amerika Serikat pada 1993 dan terus berkembang sampai ke seluruh dunia termasuk Indonesia hingga saat ini. Buku-buku tentang Efek Mozart telah ditulis dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Di Amerika Serikat, CD dan kaset Mozart sangat laris sejak pemberitaan perihal efek ini, bahkan di negara bagian tertentu ada peraturan pemerintah yang secara khusus menganjurkan warganya mendengarkan Mozart dan memasukkan musik itu ke kurikulum pendidikan.
Efek Mozart umumnya dapat dijelaskan sebagai kondisi/efek sebagai hasil pemaparan terhadap musik tertentu (khususnya musik Mozart) dalam waktu singkat dan berefek positif terhadap kognisi dan perilaku.
Pengertian ini pun lalu terdistorsi lebih lanjut oleh publik hingga Efek Mozart diyakini pula dapat menyembuhkan penyakit tertentu seperti stroke, Alzheimer, Parkinson, dan lain lain.
Selain Efek Mozart, belakangan ini juga berkembang istilah terapi musik. Terapi musik adalah suatu bentuk terapi pelengkap yang dalam dunia kedokteran disebut Complementary Medicine.
Definisi Efek Mozart
Efek Mozart secara resmi ditemukan dan dipublikasikan oleh Rauscher et al, namun hak cipta untuk hal ini diambil oleh seorang ahli musik bernama Don Campbell dengan membuat website resmi Efek Mozart dan menjual banyak CD Efek Mozart. Rauscher sendiri tidak pernah mengklaim bahwa Mozart dapat meningkatkan kecerdasan, ia mengatakan bahwa adalah terlalu cepat berkesimpulan bahwa Mozart dapat membuat Anda lebih pintar.


Efek Mozart dan Terapi MusikTerapi musik adalah keahlian menggunakan musik dan elemen musik oleh seorang terapis yang terakreditasi untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan mental, fisik, emosional dan spiritual.
Klien dalam suatu sesi terapi musik biasa diajak bernyanyi, belajar main musik, bahkan membuat lagu singkat, atau dengan kata lain terjadi interaksi yang aktif dengan musik, dan bukan hanya mendengarkan secara pasif seperti yang terjadi pada efek Mozart.
Keaktifan dan kepasifan pelaku terhadap musik inilah yang membedakan terapi musik pada umumnya dengan efek Mozart. Selain itu, pada terapi musik, musik yang digunakan sangat beragam dan tidak terbatas hanya pada musik Mozart saja.
Sementara efek Mozart baru muncul pada 1993, sedangkan ide dan penggunaan terapi musik sudah ada sejak zaman Yunani kuno oleh Plato dan Phytagoras. 1 Penggunaan terapi musik telah terbukti bermanfaat bagi perkembangan kognisi, perilaku serta kesehatan. Bahkan terapi musik juga telah digunakan untuk menolong para korban pada Perang Dunia I dan II. Dengan penggunaan terapi musik ini, para korban dilaporkan lebih cepat sembuh dan memiliki kondisi lebih baik.
Tidak banyak persamaan antara efek Mozart dan terapi musik, selain keduanya menggunakan intervensi musik untuk memperbaiki keadaan klien/pasien, namun dampak yang dihasilkan dari keduanya berbeda.
Efek Mozart hanya bertahan beberapa menit, berpengaruh terbatas pada kemampuan spasial-temporal, dan belum dilaporkan dampak efek ini bagi kesehatan secara umum. Sedangkan terapi musik dampaknya lebih berkepanjangan (long-last), berpengaruh terhadap keseluruhan kemampuan (multiple), dan banyak laporan kemajuan kesehatan akibat intervensi terapi musik.
Terlepas dari banyaknya perdebatan mengenai keabsahan musik sebagai salah satu bentuk terapi, tak dapat disangkal lagi bahwa terapi musik sudah banyak dipraktikkan dan hasilnya cukup menakjubkan. Bahkan musik sudah diakui sebagai salah satu bentuk terapi pelengkap (complementary therapy), disamping akupunktur, massage therapy, dan chiropathy.

Terapi musik mulai berkembang di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, bahkan di Indonesia sudah ada klinik terapi musik dan penelitian musik sudah mulai dikembangkan. Hal ini menunjukkan bahwa musik selain memiliki aspek estetika, juga aspek terapetik, sehingga musik banyak digunakan untuk membantu penyembuhan, menenangkan, dan memperbaiki kondisi fisiologis pasien maupun tenaga medis. Beberapa penelitian musik yang berhubungan dengan kedokteran adalah sebagai berikut: